IWA Blog

DECEPTION

DECEPTION

Maru asal Pakistan hendak melintasi pos perbatasan Pakistan-Afghanistan. Dia bersepeda dan membawa 2 tas besar di pundaknya.

Setelah melewati imigrasi, Tentara Afghanistan memerintahkan dia untuk berhenti untuk pemeriksaan,

“Pinggirkan sepedamu itu. Apa isi kedua tas itu?”

“Pasir,” jawab Maru.

Tentara Afghanistan jelas tidak percaya begitu saja. Mereka membongkar kedua tas besar yang ada di belakang sepeda itu dan benar mereka menemukan hanya pasir didalamnya, tidak ada barang apa pun yang disembunyikan di dalam pasir tersebut. Akhirnya mereka melepaskan Maru dan membiarkan dia melintasi perbatasan menuju wilayah Pakistan.

Keesokan harinya, kejadian yang sama berulang kembali. Tentara Aghanistan itu kembali menghentikan sepeda Maru dan bertanya,

“Apa yang kamu bawa?”

Maru menjawab, “Pasir.”

Tentara-tentara itu kembali memeriksa dengan teliti kedua tas itu dan tetap saja mereka hanya menemukan benda yang sama, pasir. Tidak ada yang lain. Bahkan pasir itu di ambil Sebagian untuk di tes di laboratorium. Ternyata isinya memang hanya pasir belaka.

Kejadian yang sama berulang kali terjadi hingga 3 tahun lamanya. Akhirnya, Maru tidak muncul lagi.

Suatu ketika kepala tentara Afghanistan yang seringkali melihat pemeriksaan sepedanya Maru itu menjumpainya sedang bersantai ria di sebuah resort yang mahal yang berada di luar kota Jalalabad (Afghanistan).

“Hei, kamu yang suka bawa pasir,” tegur tentara Afghanistan itu. “Saya menduga kamu selama ini membohongi kami saat melintas perbatasan. Tapi saya selalu menemukan pasir didalam tasmu. Selama 3 tahun saya dan seluruh pasukan saya sepertinya menjadi gila,

kadang sampai tidak selera makan dan sulit tidur memikirkan barang selundupan apa yang sesungguhnya kamu bawa ke Afghanistan? Kami teliti CCTV berulang kali dan kami tidak dapat menemukan jawabannya.

Baiklah, ini di antara kita berdua saja! Saya mau tanya, apa sih yang kamu selundupkan tiap hari selama 3 tahun? Saya berjanji tidak akan menangkap dan melaporkan kamu.”

Maru pun menjawab dengan kalem:
“Sepeda!” ???

Terkadang apa yang ada di pelupuk mata kita tidak tampak. Terutama bila fokus kita tertuju pada sesuatu yang menarik perhatian kita.

Banyak orang tertarik hanya dari penampilan, ketampanan, kecantikan seseorang. Oleh karenanya orang yang mempunyai itikad tidak baik seringkali memperdaya orang dengan membungkus keburukannya, kejahatannya dengan penampilan, ketampanan / kecantikan atau sesuatu yang bisa menutupi keburukan-keburukannya. Ini Namanya Deception atau Desepsi.

Sekarang ini banyak juga orang yang menutupi tujuannya untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan dengan membungkus aksinya dengan agama, aksi sosial, dan lain-lain.

Oleh karena itu tetaplah selalu menjaga kewarasan serta kesadaran diri kita. Jangan mudah terperdaya dengan deception (tipu daya) seperti itu.

Sebuah artikel di Harvard Business Review, Nov 05, 2020 berjudul: Don’t Get Blindsided by Your blind Spots. https://hbr.org/2020/11/dont-get-blindsided-by-your-blind-spots Di sana ada sebuah nasehat penting untuk para pemimpin baik di sektor publik maupun di sektor swasta. Dikatakan demikian: “Pemimpin harus lebih sensitif terhadap situasi dan kondisi yang sesungguhnya dihadapi oleh team dan perusahaan. Leadership self-awareness itu penting sekali.”

Ya sebagai pemimpin kita juga harus berhati-hati pada karyawan-karyawan yang memberi laporan seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi di dalam perusahaan, padahal kenyataannya adalah tidak seperti itu, itu adalah sebuah deception. Di zaman Pandemi seperti ini, sikap keterbukaan dan gotong royong untuk menyelesaikan masalah itu penting. Jadi tidak perlu karyawan hanya memberikan laporan-laporan baik-baik padahal kenyataannya situasinya tidak baik.

Bicara tentang Deception, sesungguhnya kita bicara tentang Etika. Oleh karenanya untuk menghindari diri kita atau perusahaan kita di desepsi oleh seseorang. Maka Etika harus ditegakkan. Business Ethics harus diimplementasi.

Di dalam dunia bisnis, kompetisi yang ganas Deception ini juga banyak digunakan. Lihatlah apa yang dikatakan oleh Sun Tzu yang ahli strategi perang.

“Appear weak when you are strong, and strong when you are weak.” ― Sun Tzu, The Art of War

“All warfare is based on deception. Hence, when we are able to attack, we must seem unable; when using our forces, we must appear inactive; when we are near, we must make the enemy believe we are far away; when far away, we must make him believe we are near.” ― Sun Tzu, The Art of War

Sama seperti kampanye dalam pemilu. Banyak incumbents yang memberikan janji-janji yang bukan ditujukan untuk diwujudkan. Melainkan hanya untuk membuatnya menang. Sekalipun diwujudkan. Hal itu hanya akan diwujudkan dalam bentuk model kecil dengan falsafah “yang penting ada dan diwujudkan, tidak penting apa yang terjadi setelah itu”. Kan artinya dia sudah mewujudkan perkataannya. Tapi coba ditinjau dalam masalah Etika. Apakah itu OK untuk standar ETIKA?

Oleh karena begitu banyak Deception yang ada di dunia ini. Maka perhatikanlah atau berikan fokus kita pada hal-hal penting seperti ETIKA ini, Lebih baik berada di lingkungan orang-orang yang mempunyai stadar ETIKA tinggi. Orang ini pasti tidak akan me”deception” kita.

“When one with honeyed words but evil mind. Persuades the mob, great woes befall the state.” ― Euripides

Have a Great Day! GC

Previous Post

LOVE HOMEWORK

Next Post

PRECIOUS MOMENTS

Leave a Comment

mahjong ways gacor

situs slot777 online