IWA Blog

Filosofi Layang-Layang

Filosofi Layang-Layang

Hari Keluarga Nasional
By Galatia Chandra
Author of Hacking Your Mind

Disuatu pagi yang cerah, Bob (9 tahun) dengan ayahnya pergi ke pantai Serdang, Manyar, yang berada di pulau Belitung untuk menghadiri festival layang-layang di sana.

Bob sangat senang sekali melihat langit penuh dengan layang-layang berwarna-warni. Begitu indah pemandangan di sana. Bob memohon pada ayahnya agar dapat membeli sebuah layang-layang lengkap dengan benang serta kalengnya untuk menggulung benang layang-layang tersebut. Segera saja sang ayah membelikannya.

Bob dan ayahnya pun langsung menerbangkan Layang-layang tersebut. Dalam sekejap, layang-layang tersebut menjulang tinggi di angkasa.

Hati Bob pun bertambah senang. Setelah bermain beberapa saat, Bob berkata pada ayahnya: “Ayah, tampaknya benang ini menahan layang-layang tersebut untuk terbang tinggi ya. Kalau seandainya benang ini kita putuskan, barangkali layang-layang tersebut akan bisa terbang lebih tinggi lagi. Apakah boleh diputuskan benang ini Ayah?”

Tanpa ragu-ragu dan tanpa berkata apa-apa lagi, sang Ayah langsung mengambil benang tersebut lalu memutuskannya.

Pada awalnya layang-layang tersebut terbang lebih tinggi dari sebelumnya. Bob pun tepuk tangan bahagia…. Akan tetapi… perlahan namun pasti, layang-layang tersebut turun dan akhirnya terhempas di laut dan kemudian setelah digoyang ombak beberapa saat, layang-layang itu pun tenggelam.

Bob sungguh terkejut melihat kejadian ini. Hal ini di luar perkiraannya. Pikirnya kalau layang-layang tersebut bebas dan tidak tertambat, maka layang-layang tersebut bisa terbang bahkan bisa jadi akan menyentuh langit. Tetapi mengapa malahan ia jatuh?

Sang Ayah yang bijak tersenyum, “Anakku Bob, Ayah sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Tapi Ayah tetap lakukan agar kamu bisa belajar. Sebab kejadian ini persis seperti hidup kita”. Kata sang Ayah.

“Ayah mengikuti apa yang kamu inginkan agar memutus tali yang menambat Layang-layang tersebut untuk memberi contoh bahwa ketika layang-layang itu di udara sendiri, dia tidak akan bertahan lama dan pasti akan jatuh dan tenggelam tergulung ombak.”

Demikian juga kehidupan manusia…. Kehidupan manusia juga seperti sebuah layang-layang. Pada suatu ketinggian tertentu seseorang bisa jadi berpikir bahwa ia akan bisa terbang lebih tinggi lagi jika bisa melepaskan diri dari faktor-faktor yang menghambatnya untuk meraih ambisinya yang lebih tinggi. Prestasinya pasti akan lebih baik jika ia bebas.

Keluarga, Pasangan hidup, Orang tua, bisa jadi dianggap sebagai faktor-faktor yang menghambatnya untuk bisa berprestasi lebih baik, terbang di karir yang lebih tinggi.

Namun apa yang terjadi ketika ia putus hubungan dengan keluarga dan semua pihak yang dianggap menahan dirinya untuk terbang lebih tinggi? Pada awalnya kelihatannya ia terbang lebih tinggi, tapi setelah itu ia pasti akan jatuh ke laut yang dalam dan dingin. Tertelan ombak kehidupan yang sangat ganas.

Ingatlah selalu bahwa dikala hidup kita berada di bawah, keluarga kitalah sesungguhnya yang menarik hingga kita bisa berada di atas kembali. Mereka kadang harus berlari untuk mengangkat kita terbang tinggi.

Kita seringkali lupa bahwa layang-layang bisa tinggi karena harus di TARIK ulur menunggu hingga angin menerbangkannya. Jadi mereka bukanlah menghambat melainkan justru memberi dukungan, semangat dan energi untuk bisa terbang tinggi mencapai mimpi-mimpi kita.

Begitu juga hubungan kita dengan Tuhan, jangan biarkan tali doa yang menghubungkan kita putus. Tetaplah terbang tinggi dengan Tuhan sebagai pusat pengendali hidup kita.

Bob pun akhirnya mengerti

Hari ini adalah Hari Keluarga Nasional atau Harganas di Indonesia… Spend your time with your family…

”Family is not an important thing. It’s everything.” Michael J. Fox

Have a GREAT Day! GC

Previous Post

Saya atau Kita?

Next Post

TURN AROUND

Leave a Comment

mahjong ways gacor

situs slot777 online