IWA Blog

RESILIENSI

RESILIENSI

Pernahkah Anda melakukan perjalanan atau berwisata ke suatu tempat yang baru? Bagaimana rasanya? Pasti menyenangkan bukan? Lalu bagaimana jika ternyata ada masalah di dalam perjalanan tersebut? Pasti Anda akan menjadi kesal & marah, bukan? Sesuatu yang semula sudah dirancang demikian sempurnanya hancur berantakan. Mimpi-mimpi Indah yang semula tampak indah menjadi hancur akibat masalah tersebut.

Bisa jadi hal tersebut membuat emosi kita bergejolak. Kita menjadi kesal dan bisa jadi malahan masalah itu menjadi momok bagi anda untuk mencoba lagi sebuah perjalanan baru. Anda merasa Kapok atau Jera untuk mencoba lagi di masa yang akan datang.

Padahal… Dalam mengarungi sebuah petualangan atau perjalanan ketempat baru, banyak sekali sesungguhnya variabel-variabel yang bisa mengubah rencana kita. Hujan aja misalnya, hujan bisa saja membatalkan banyak acara yang kita rancang sempurna. Nah… Bagaimana kita beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada tersebut itulah yang menentukan bagaimana kualitas perjalanan kita.

Kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit seperti inilah yang disebut sebagai Resiliensi. (Reivich dan Shatté,2002)

Apakah seseorang mempunyai Resiliensi yang hebat atau tidak, menurut Reivich dan Shatté dapat dinilai dari 7 kemampuannya:

1. Bagaimana orang tersebut meregulasi emosinya. Apakah orang tersebut bisa tenang sekalipun ia berada di bawah tekanan?

2. Pengendalian diri, dimana orang tersebut mampu mengendalikan keinginannya, dorongan hasratnya, serta tekanan yang muncul dari dalam diri orang tersebut.

3. Selalu Optimis dalam setiap keadaan.

4. Mempunyai empati yang tinggi.

5. Mempunyai kemampuan untuk menganalisa Akar Masalah dengan tepat. Serta mengenali tools dalam menganalisa masalah seperti misalnya 3 P.

a. Personal (Apakah masalah ini hanya terjadi pada diri saya saja atau terjadi juga pada semua orang).

b. Permanen (Apakah masalah ini sementara atau permanen dampaknya)

c. Pervasive (Apakah masalah ini menghancurkan semua rencana atau hanya sebagian)

6. Efikasi Diri, Mempunyai kemampuan untuk bertindak dalam menghadapi masalah secara Arif dan mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat untuk mengatasinya serta melakukan Tindakan pencegahan agar tidak terjadi lagi di masa mendatang.

7. Mempunyai kemampuan untuk meningkatkan aspek positif dalam hidup.

Jika disimpulkan, orang yang mempunyai resiliensi yang tinggi adalah orang yang mampu mengubah dirinya menjadi seperti bola karet. Ketika ia dibenturkan pada bidang yang keras maka ia akan mental kembali dan melambung tinggi. Semakin keras ia dibanting, semakin tinggi pula pantulannya.

Sangat beda jika ia seperti sebuah bola kristal yang akan hancur berkeping-keping tatkala ia berbenturan dengan benda padat yang keras, atau jika dia seperti seperti buah kecapi yang kalau dibanting kelihatannya di luar tidak ada masalah apa-apa tapi sesungguhnya di dalamnya sudah mulai hancur dan jika didiamkan maka pembusukan di dalamnya akan terus terjadi.

Sahabatku… Pada saat ini, Oleh karena aturan Social Distancing yang dicanangkan oleh pemerintah. Maka mau tidak mau kita harus bekerja, beribadah dan belajar di rumah masing-masing. Tentu saja hal ini menimbulkan masalah besar bagi kita dan bisnis kita. Mengubah pola kerja kita, mengubah pola kebiasaan kita, mengubah banyak hal di dalam hidup kita.

Ingatlah bahwa saat ini Resiliensi kita sedang di uji. Seberapa hebatnya kah Resiliensi kita sebagai orang Indonesia dalam menghadapi situasi tidak kondusif seperti pada saat ini.

Ada sebuah badan riset dunia yang mengukur rangking skor dan ranking negara yang mempunyai resiliensi terbaik. Pada data 2020 FM Global Resilience Index, Norway dinobatkan sebagai negara dengan Ranking Resiliensi Index terbaik. Disusul oleh Switzerland ditempat kedua. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia ternyata menduduki rangking ke 80. Singapore ranking ke 22. https://www.fmglobal.com/research-and-resources/tools-and-resources/resilienceindex/explore-the-data/?

Jadi bagaimana kita dapat meningkatkan Resiliensi kita? Lihatlah ke 7 hal yang saya kemukakan di atas. Perkuatlah ke 7 basis kemampuan itu. Jadilah orang-orang Indonesia yang Tangguh dan mempunyai kemampuan adaptasi terhadapa situasi tinggi atau resiliensi yang tinggi. Selalu Optimis bahwa kita akan sanggup untuk mengalahkan Covid-19 ini. Kita harus terus bersemangat, mampu kendalikan emosi dan diri kita, terus belajar untuk membuat melakukan hal-hal yang kreatif dan efektif dari rumah kita.

Sesungguhnya kualitas pribadi seseorang justru dapat dilihat dari seberapa baik dia menangani masalah seperti halnya bencana Covid-19 ini. Ketahanan fisiknya, ketahanan mentalnya, ketahanan emosionalnya serta ketahanan spiritualnya dan terus dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah akan memperlihatkan seperti apa kualitas orang tersebut.

Masalah akan datang silih berganti, tapi itu tidak masalah, Friedrich Nietzsche pernah berkata, “Apa yang tidak membunuh kita akan membuat diri kita menjadi lebih kuat.” Mari kita hadapi masalah-masalah kita dengan berani, tetap semangat, optimis dan terus bertahan terhadap tekanan-tekanan yang mendera hidup kita.

“Never Give Up, Today is hard, Tomorrow will be worse but the day after tomorrow will be sunshine!” – Jack Ma.

Have a GREAT Day! GC

Previous Post

HIDUP SEHAT Hari Kesehatan Dunia

Next Post

FOCUS

Leave a Comment

mahjong ways gacor

situs slot777 online